Bahaya Alkohol Juga Menyebabkan Kepikunan

advertise here
Pikun atau demensia biasanya terjadi pada lansia, namun tidak mematahkan kemungkinan itu terjadi pada anak muda. Pada beberapa waktu yang lalu sebuah riset dimana hal tersebut sangat mengejutkan bagi para periset, disebutkan bahwa faktanya minuman beralkohol sangat berperan dalam masalah kesehatan demensia atau kepikunan. Hal tersebut diklaim berdasarkan penelitian terhadap satu juta pecandu alkohol. "Awalnya, kamu menghipotesis-kan alkohol akan memainkan peran tertentu, tapi saya rasa, tidak ada yang menduga sebelumnya bahwa ternyata efeknya begitu besar," kata Dr. Jürgen Rehm, selaku pemimpin riset. Jürgen Rehm mengatakan, sebelumnya memang telah ada beberapa penelitian yang mengamati risiko kesehatan yang berpotensi dialami oleh para pecandu berat alkohol. Beberapa penelitian telah menyarankan, meminum 1-2 gelas minuman beralkohol setiap hari, mungkin memiliki efek perlindungan terhadap kesehatan kognitif. 


Namun, penelitian lain telah menghubungkan bahwa minum alkohol, bahkan pada tingkat sedang, memiliki efek yang merugikan pada struktur otak. Tinjauan terbaru dari the Lancet Commission on Dementia Prevention, mengungkap, mengurangi konsumsi alkohol tidak termasuk salah satu dari sembilan perubahan gaya hidup yang dapat mengurangi risiko kepikunan. Atas kesimpulan itulah Rehm dkk melakukan penyelidikan lebih dalam. Mereka menganalisis catatan rumah sakit lebih dari satu juta orang dewasa di Perancis yang didiagnosis menderita demensia antara tahun 2008-2013. Para peneliti mencari faktor risiko demensia, seperti merokok, tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, pendidikan rendah, dan gangguan pendengaran. 

Namun, periset juga mencari bukti adanya gangguan penggunaan alkohol yang diidentifikasi sebagai kondisi mental, perilaku atau kesehatan fisik terkait alkohol -seperti penyakit hati atau cedera kepala, yang tercantum pada catatan rumah sakit terhadap si pasien. Anehnya, dari pemeriksaan itu ditemukan data, kecanduan alkohol adalah penyebab terbesar munculnya demensia dari semua faktor yang dianalisis, baik untuk pria maupun wanita. Hubungan antara penggunaan alkohol dan demensia tetap signifikan di semua kelompok usia dalam penelitian ini, dan di semua jenis demensia, termasuk penyakit Alzheimer. Orang yang kecanduan alkohol berisiko tinggi mengalami demensia dini. Dari 57.000 orang yang didiagnosis menderita demensia sebelum usia 65 tahun, hampir 60 persen didiagnosis menderita kerusakan otak terkait alkohol. 

Periset mengatakan, penelitian mereka menambah bukti bahwa konsumsi alkohol yang berlebihan menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Celakanya, banyak orang yang terus mengonsumsi alkohol dengan dosis yang berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental mereka. "Seperti banyak hal, dosisnya membuat racun. Setiap tahun, lebih dari tiga juta kematian terkait dengan alkohol -sangat jelas, kita minum alkohol dalam jumlah yang terlalu tinggi," ucap Rehm. Organisasi Kesehatan Dunia mendefinisikan pencandu minuman keras kronis mengonsumsi setara dengan 4-5 minuman standar per hari untuk pria, atau tiga gelas sehari untuk wanita. Menurut Rehm, banyak orang yang melihat konsumsi alkohol ini sebagai sebuah hal yang wajar. "Dan ya, banyak orang melakukannya -tapi karena itulah banyak orang sekarat sebelum waktunya, dan mungkin mengapa banyak orang mengalami kepikunan," tambahnya. Penelitian ini hanya mampu menunjukkan hubungan antara masalah minum dan kondisi kognitif, bukan hubungan sebab-akibat. 

Periset juga menunjukkan, banyak orang yang harus dirawat inap di rumah sakit karena alkohol. Ini menandakan bahwa kemungkinan kecanduan alkohol adalah faktor pemicu demensia yang levelnya melebihi perkiraan periset. Oleh karena itu, Rehm menyarankan agar negara-negara yang memiliki tingkat kosumsi alkohol tinggi -seperti Perancis dan Amerika Serikat, harus berbuat lebih banyak untuk menyaring dan mengobati gangguan penggunaan alkohol. Hal ini bertujuan untuk memperlambat munculnya demensia yang berkembang pesat di seluruh dunia. "Semakin banyak kalian minum, semakin tinggi kemungkinan kalian untuk menderita, baik dari penyebab demensia atau dari hal lain terkait alkohol, seperti kanker, " ucap Rehm. Rhem juga mengatakan, para pecandu alkohol tidak perlu menghentikan konsumsi alkohol secara total. Mereka cukup menerapkan konsumsi alkohol dalam tingkat aman.